oleh: Khoirul Anwar Afa
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasullulah pernah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” “Orang yang bangkrut itu mereka yang tidak punya harta lagi,” Jawab para sahabat. “Tidak. Orang yang bangkrut itu mereka yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa bekal shalat, puasa, dan zakat. Tetapi mereka mencaci hal ini, menuduhnya, dan hanya memakan harta dari semua ini, bahkan mereka sampai mengalirkan darah, dan memukulinya. Lalu mereka diberi imbalan dari perbuatan baiknya. Padahal, semua kebaikannya telah hilang sebelum digunakan untuk menebus kesalahannya. Dan pada akhirnya mereka dilempar ke neraka.”
            Allah juga berfirman, “Sungguh manusia itu dalam keadaan rugi kecuali mereka yang beriman dan beramal salih, dan saling berpesan dalam kebenaran serta dalam kesabaran,” (QS 103: 2-3). Hadis tadi dan firman Allah sungguh kokoh memberikan instruksi kepada hambaNya untuk menanamkan benih yang baik di dunia.
            Para ulama, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani sepakat mengatakan kalau dunia itu adalah ladang akhirat. Tempat investasi akhirat yang jelas ada di hadapan manusia. Semua itu diberikan Allah kepada manusia karena sebagai makhluk Allah yang paling mulia. Bahkan Allah tidak segan-segan melipat gandakan sebuah kebaikan yang dilakukan hambaNya. Sebagaimana firmanNya, “Siapa saja dari hambaKu yang berbuat kebaikan, maka satu kebaikan Aku beri pahala sepuluh.”
            Namun perihal terkait, Abu Qatadah bercerita bahwa Nabi pernah ditanya tentang para sahabat yang gugur dalam peperangan Khaibar. Apakah mereka syahid atau tidak?. Dalam hadis itu Nabi menegaskan jika yang gugur itu termasuk orang yang sabar dan menghayati antara baik buruk maka mereka termasuk golongan yang mati syahid. Jika tidak, bukanlah syahid.
             Rasullulah juga pernah bersaksi atas kesyahidan para pejuang perang Uhud, yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwatta’nya, Rasul mengatakan, ”Aku akan menjadi saksi atas kesyahidan mereka dengan dua hal. Pertama, atas bukti lahirnya, yang dapat dilihat dari iman, dan ibadahnya kepada Allah, serta konsisten dalam berjuang di jalanNya. Kedua, bukti batinnya, melalui apa yang aku ketahui dari pribadinya serta dari wahyu yang diberikan kepadaku.” Jika demikian maka bukti orang beriman yang benar, sebagaimana telah difirmankan Allah dalam QS 103, selain beriman juga melakukan amal baik. Bukan merusak. Dan bukan menindas yang lain. Wallahu alam.



  


 
Top